JURNAL PERCOBAAN 5 REAKSI REAKSI HIDROKARBON

 

Jurnal Praktikum Kimia Anorganik I

Reaksi-reaksi Hidrokarbon



 

Disusun Oleh :

Desi Anis Satriani

(A1C119014)

 

Nama Dosen Pengampu :

Dr. Drs. Syamsurizal, M.Si.

 

 

 

Program Studi Pendidikan Kimia

Jurusan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas Jambi

 

2021


I.              Judul                         : Reaksi-reaksi Hidrokarbon

II.           Hari / Tanggal           : Senin / 15 Maret 2021

III.        Tujuan                       : Pada akhir percobaan diharapkan mahasiswa dapat

memahami

1.    Dapat mengetahui Perbedaan sifat-sifat kimia hidrokarbon alifatik jenuh dan tak jenuh dan aromatik

2.    Dapat mengetahui jenis reaksi kimia untuk membedakan ketiga golongan senyawa hidrokarbon

3.    Dapat mengetahui cara dan teknik pengujian ketiga golongan senyawa hidrokarbon

IV.             Landasan Teori

Hidrokarbon merupakan suatu senyawa karbon yang didalamnya hanya terdapat unsur hidrogen dan unsur karbon, sehingga tidak ada unsur lain. Contoh dari senyawa hidrokarbon ini adalah CH4, C3H8, dan C6H6. Apabila senyawa hidrokarbon dibakar, maka pembakaran tersebut akan menghasilkan gas karbondioksida atau sering kita sebut CO2 dan uap air atau H2O. Keberadaan  CO2 disini menunjukkan adanya unsur C atau karbon dan keberadaan uap air menunjukkan adanya unsur H atau hidrogen. senyawa hidrokarbon terbagi menjadi dua yaitu senyawa alifatik dan senyawa siklik. Senyawa Alifatik adalah senyawa dengan rantai C terbuka atau lurus dan bisa juga bercabang sedangkan senyawa siklik adalah senyawa dengan rantai C tertutup atau melingkar (Tiopan, 2006).

Seluruh bahan bakar dari fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan juga gas adalah sumber utama hidrokarbon. Hidrokarbon yaitu minyak dan gas kebanyakan difungsikan oleh penggunanya sebagai bahan bakar yang menghasilkan energi dan bisa juga sebagai pemanas ruangan. Dalam penyulingan minyak bumi, yang dihasilkan adalah bensin. Disini bensin sebagai bahan bakar diesel, minyak pemanasan, minyak pelumas, lilin, dan juga aspal. Hidrokarbon mulai difungsikan sejak sebelum adanya CFC. Sejak adanya CFC ini penggunaan hidrokarbon mulai memudar setelah. Namun, setelah diketahui jika CFC dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan, refrigerant hidrokarbon mulai difungsikan kembali. Yang termasuk Refrigerant dari hidrokarbon adalah metana (R50), etana (R170), propane (R290), n-butana (R600) dan isobutana (R600a). (Sumeru,2018)

Ada dua kelompok hidrokarbon, yaitu hidrokarbon alifatik dan hidrokarbon alisiklik. Hidrokarbon alifatik adalah senyawa hidrokarbon yang strukturnya itu terbuka, hidrokarbonnya tidak mengandung cincin atom karbon dan semua atom karbon terbentuk susunan rantai lurus, namun rantai C-nya bisa juga bercabang. Melalui jenis ikatannya, hidrokarbon alifatik dapat dikelompokkan menjadi alifatik jenuh dan alifatik tak jenuh. Hidrokarbon alisiklik adalah senyawa hidrokarbon yang struktur rantai karbonnya melingkar dan juga tertutup. Hidrokarbon alisiklik dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu alisiklik yang membentuk rantai tertutup dan aromatik yang merupakan senyawa dengan atom C-nya 6 melingkar membentuk rantai benzene, yang cincin atomnya sangat stabil (Cahyono, 2017).

Senyawa hidrokarbon hanya tersusun dari atom karbon dan hidrogen yang sering disebut dengan alkana, alkena dan alkuna. Senyawa hidrokarbon ada pada kehidupan keseharian kita dan banyak juga digunakan oleh masyarakat baik untuk keperluan memasak ataupun sebagai bahan bakar dari kendaraan bermotor. Penggunaan senyawa hidrokarbon tersebut dapat melalui reaksi-reaksi pembakaran sempurna dan tidak sempurna. Pada umumnya reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa hidrokarbon adalah bahan bakar yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita baik berupa gas maupun bensin dan minyak tanah. Produk yang dihasilkan dari hasil pembakaran sempurna maupun tidak sempurna dapat diidentifikasi baik secara fisik maupun secara kimia. (https://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/01/21/reaksi-reaksi-hidrokarbon/ )

Hidrokarbon yang mampu untuk berikatan dengan dirinya sendiri dapat disebut dengan katenasi dan bisa menyebabkan hidrokarbon membentuk senyawa-senyawa yang lebih kompleks lagi, seperti halnya sikloheksana atau arena seperti benzene. Kemampuan ini didapat karena karakteristik ikatan diantara kedu atom karbon yang bersifat nonpolar. ( https://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon )

V.                Alat dan Bahan

5.1 Alat

1.      Tabung reaksi

2.      Pipet tetes

3.      Gelas ukur

4.      Botol

5.2 Bahan

1.      Asetaldehid

2.      Logam seng

3.      Larutan H2SO4 pekat

4.      Larutan benzene

5.      Larutan sikloheksana

6.      Larutan KMnO4 0,5%

7.      Larutan NaCO3 5%

 

VI.             Prosedur kerja

6.1 Uji clemensen

1.      Dimasukkan 1 ml asetaldehid kedalam tabung reaksi

2.      Dimasukkan logam seng sebanyak 2 gr

3.      Ditambahkan H2SO4 2 ml kedalam tabung reaksi

4.      Amati apa yang terjadi

6.2 Uji Bayers

1.      Dimasukkan setiap larutan uji kedalam 3 tabung reaksi yang berbeda

2.      Diteteskan 3 tetes larutan KMnO4 kedalam masing-masing tabung reaksi

3.      Diteteskan 1 tetes NaCO3 pada larutan uji

4.      Amati apa yang terjadi

6.3 Uji Asam sulfat

1.      Dimasukkan setiap larutan uji 0,5 ml kedalam 3 tabung reaksi yang berbeda yang telah berisi 1 ml larutan H2SO4 pekat

2.      Amati apa yang terjadi

Berikut adalah link video sebagai referensi terkait percobaan ini:

https://youtu.be/L1HHdQdfc0I

Berdasarkan video tersebut timbul 3 pertanyaan, diantaranya sebagai berikut:

1.      Mengapa pada saat uji bayers jumlah penetesan larutan KMnO4 dan larutan NaCO3 itu berbeda?

2.      Jika jumlah penetesan disamakan apakah akan memberikan hasil yang sama?

3.      Pada uji asam sulfat, mengapa tingkat kekeruhan pada masing-masing larutan uji berbeda-beda setelah penambahan H2SO4?

 

 

Komentar

  1. Saya Novia Rahmadhani dengan nim A1C119023 izin menjawab pertanyaan nomor 1. Pada saat uji Bayers jumlah penetesan larutan KMnO4 dan larutan NaCO3 berbeda dimana larutan KMnO4 lebih banyak di teteskan yaitu sebanyak 3 tetes karena KMnO4 sebagai oksidator yang berguna sebagai katalis untuk menunjukkan kereaktifan hidrokarbon. Sedangkan larutan NaCO3 sebagai reagen.

    BalasHapus
  2. Saya Sinta Marliya dengan NIM A1C119002 akan mencoba menjawab permasalahan nomor 2, Jika jumlah zat yang diberikan sama apakah hasilnya akan berbeda? jawabannya adalah iya, keran setiap senyawa mempunyai ikatan rangkap yang apabila ditambahkan zat pelarut maka ikatan rangkat tersebut kemungkinan akan putus sesuai jumlah yang diberikan

    BalasHapus
  3. Saya Ahmad Rivaldi (047) akan menjawab pertanyaan no 3. Pada uji asam sulfat ini akan diperoleh senyawa alkil hidrosulfat yang dihasilkan dari suatu alkana yaitu senyawa dengan ikatan tunggal. Hal ini mengungkapkan bahwa alkana dengan ikatan tunggal masih bisa bereaksi dengan asam sulfat walaupun dalam jumlah sedikit atau terjadi reaksi pengsulfonatan. Uji asam sulfat dapat dilakukan dengan mereaksikan sampel hidrokarbon dengan asam sulfat pekat. Hasil percobaan, umumnya pada uji ini menghasilkan larutan bening yang akan terpisah berdasarkan tingkat kekeruhannya. Namun, pada video percobaan ini menghasilkan dua lapisan dengan tingkat kekeruhan yang berbeda-beda.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Percobaan I Analisia Kualitatif Unsur-unsur Zat Organik dan penentuan Kelas Larutan

LAPORAN PRAKTIKUM PERCOBAAN 2 PENENTUAN KELAS KELARUTAN

JURNAL PERCOBAAN 2 PENENTUAN SIKAP KELARUTAN