JURNAL PERCOBAAN 11 TEKNIK PEMISAHAN DENGAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Jurnal Praktikum Kimia organik I
Teknik Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis
Disusun Oleh :
Desi Anis Satriani
(A1C119014)
Nama Dosen Pengampu :
Dr. Drs. Syamsurizal,
M.Si.
Program Studi
Pendidikan Kimia
Jurusan Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2021
I.
Judul : Teknik Pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis
II.
Hari / Tanggal : Senin / 03 Mei 2021
III.
Tujuan : adapun tujuan pada
percobaan kali ini adalah:
1.
Untuk memisahkan campuran senyawa fase
dengan metode kromatografi lapis tipis
2.
Untuk mengetahui nilai Rf
IV.
Landasan Teori
Kromatografi
lapis tipis bisa diktakan mempunyai sifat kemiripan dengan kromatografi kertas.
Namun tetap memiliki perbedaan, dimana kromatografi lapis tipis menggunakan
pelat yang dibuat dari gelas atau plastik yang ada didalamnya lapisan tipis zat
penyerap, seperti alumina. Pelarut bisa merambat naik dimana untuk memisahkan
sampel campuran menjadi zat-zat penyusunnya (Lutfi, 2006).
Proses ekstraksi dapat dilakukan sampai
analit yang ada pada sampel terekstraksi dengan baik. Semua analit telah
terekstraksi dengan baik apabila pelarut yang digunakan tidak berwarna. Semua
analit dapat terekstraksi dengan baik yaitu dengan melakukan uji menggunakan
kromatografi lapis tipis (KLT) dan bisa juga menggunakan spektrofotometri UV. Jika
yang digunakan adalah KLT, semua analit telah terekstraks dapat dilihat dengan
tidak adanya noda/spot pada pelat KLT tersebut (Leba,2017).
Kromatografi lapis tipis dilaksanakan
dengan menggunakan lapis tipis silika atau alumina yang sejenis didalam lempeng
gelas atau logam dan plastik yang keras. Jel silika adalah salah satu contoh
fase diam pada uji kromatografi lapis tipis. Fase diam untuk kromatografi lapis
tipis banyak juga mengandung substansi dimana bisa berpendar flour dalam sinar
ultra violet. Pada kromatografi, eluent merupakan fasa gerak yang memiliki
peran penting didalam proses elusi pada larutan umpan untuk melewati fasa diam
(adsorbent). Hubungan antara adsorbent dengan eluent merupakan komponen penentu
akan terjadinya pemisahan komponen. Maka dari itu, pemisahan komponen gula
dalam tetes secara kromatografi dapat dipengaruhi oleh laju alir eluent serta
jumlah umpan (Haqiqi,2008).
Diantara
banyaknya teknik kromatografi, kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan yang paling cocok untuk menganalisis obat di laboratorium farmasi. Kromatografi
Lapis Tipis difungsikan untuk memisahkan banyak macam senyawa misalnya saja ion-ion
organik, kompleks senyawa-senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa-senyawa
organik yang ada di alam dan senyawa-senyawa organik buatan (Utami,2013).
Kadar
campuran dalam obat dapat dianalisis dengan metode KLT Densitometri. Metode KLT
Densitometri mempunyai banyak sekali kelebihan yaitu spesifisitas yang tinggi,
akurat, pengerjaan relatif mudah dan cepat, biaya pengoperasian murah,
polaritas pelarut atau pe1arutcampuran dapat diubah dalam waktu singkat dan
jumlah pe1arut yang digunakan sedikit. Se1ain itu, silika gel yang digunakan sebagai
fase diam Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat di daur ulang. Jika Kelebihan
yang lain adalah proses deteksi KLT lebih statis. Selain hal tersebut, dalam sistem
KLT lebih mudah untuk bisa mengubah atau menambah e1uenagar sensitivitas dan
selektivitasnya bertambah tanpa dibatasi waktu yang biasanya sangat berperan
dalam sistem deteksi dinamissepertiKCKT (Mustafidah,2013).
V.
Alat dan
Bahan
5.1 Alat
1.
Bejana KLT
2.
Lampu UV 254
3.
Gelas piala
4.
Lampu spirtus
5.2 Bahan
1.
Fraksi n-heksan
2.
Fraksi etil asetat
3.
Fraksi air
4.
Plat KLT GF254
5.
Pipa kapiler
6.
Etanol 96%
7.
N-Heksan
8.
Etil asetat
VI.
Prosedur
kerja
1.
Dilakukan penjenuhan pelarut untuk fase
gerak yang ditempatkan dalam bejana KLT. Yaitu, fase gerak : n-Heksan : etil
asetat (1:1) dan fase gerak : etanol 96% : etil asetat (1:1)
2.
Siapkan plat KLT dengan ukuran 1x8 cm,
ujung bawah dan ujung atas diberi garis batas dengan panjang 0,5 cm
3.
Beri tanda nama fraksi yang akan
digunakan dibelakang plat KLT
4.
Siapkan pipa kapiler berdiameter keci,
kemudian bilas menggunakan etanol 96%
5.
Masukkan pipa kapiler ketempat sampel,
biarkan sampel tertarik didalam pipa
6.
Totol sampel sebanyak 3 kali ditengah
plat KLT bagian bawah, tepat digaris tanda
7.
Masukkan plat KLT yang sudah diberi
sampel menggunakan pinset dengan posisi horizontal dan pastikan plat KLT
berdiri tegak
8.
Masukkan seluruh plat KLT yang sudah
diberi sampel (3 sampel) kedalam masing-masing bejana KLT yang berisi fase
gerak yang telah dijenuhkan
9.
Diamkan KLT hingga fase gerak bergerak
maju menuju tanda batas ata, kemudian keluarkan plat KLT dan biarkan kering
10. Amati
hasil KLT dibawah lampu UV 254
11. Lingkari
bercak noda menggunakan pensil kayu untuk memperjelas posisi bercak noda
12. Setelah
didapat jarak bercak noda, maka nilai Rf dihitung menggunakan rumus
Berikut
adalah link video sebagai referensi terkait percobaan ini :
berdasarkan
video tersebut timbul 3 pertanyaan, diantaranya sebagai berikut:
1. Mengapa
pelarut untuk fase gerak perlu dijenuhkan terlebih dahulu?
2. Mengapa
posisi plat KLT ketika dimasukkan kedalam larutan sampel harus dalam posisi
horizontal ?
3. Mengapa
hasil percobaan pada sinar tampak dan sinar UV menghasilkan hasil yang berbeda
?

baiklah, saya Lenny Friskha Tamba (A1C119035) akan menjawab pertanyaan no 1. tabung kromatografi terlebih dahulu dijenuhkan dengan fase gerak yang akan digunakan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh komposisi fase diam tiap bagian tabung homogen, sehingga diperoleh hasil pemisahan yang baik.
BalasHapusAssalamualaikum. Saya Teguh Arizki (A1C119008) akan menjawab permasalah no 3.
BalasHapusIni karena intensitas cahaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju reaksi, sehingga diperoleh hasil yang berbeda pada saat sinar tampak dan sinar UV.
Assalammualaikum wr wb, Baiklah saya Cyntia Widi Udya dengan NIM A1C119011 akan menjawab pertanyaan no 2. Dikarenakan agar larutan tetap dalam keadaan atau kondisi yang tetap lewat jenuh mangkanya posisi plat KLT garus tetap dalam posisi yang horizontal.
BalasHapus