LAPORAN PRAKTIKUM PERCOBAAN 11 TEKNIK PEMISAHAN DENGAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Laporan Praktikum Kimia organik I
Teknik Pemisahan Dengan Kromatografi Lapis Tipis
Disusun Oleh :
Desi Anis Satriani
(A1C119014)
Nama Dosen Pengampu :
Dr. Drs. Syamsurizal,
M.Si.
Program Studi
Pendidikan Kimia
Jurusan Matematika Dan
Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2021
VII.
DATA PENGAMATAN
|
Prosedur |
Fungsi Alat
dan Bahan |
Tujuan |
Hasil |
|
Dilakukan
penjenuhan pelarut untuk fase gerak yang ditempatkan dalam bejana KLT. Yaitu,
fase gerak : n-Heksan : etil asetat (1:1) dan fase gerak : etanol 96% : etil
asetat (1:1) |
Fraksi
n-heksan : sampel Fraksi etil
asetat : sampel Fraksi air : sampel Plat KLT GF254
: Alat Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Pipa kapiler :
Sebagai alat untuk menurunkan tekanan, merubah bentuk dari gas menjadi bentuk
cairan, dan mengatur cairan Etanol 96% : fase
gerak N-Heksan : fase
garak Etil asetat : fase gerak Bejan KLT :
Alat untuk melakukan proses kromatografi Lampu UV 254 :
Untuk pengamatan pada lempeng Gelas piala : sebagai
wadah pereaksi sampel Lampu spirtus :
Sebagai Pemanas |
Penyiapan
alat dan bahan untuk proses percobaan |
- |
|
Siapkan
plat KLT dengan ukuran 1x8 cm, ujung bawah dan ujung atas diberi garis batas
dengan panjang 0,5 cm |
|||
|
Beri
tanda nama fraksi yang akan digunakan dibelakang plat KLT |
Sebagai
Penanda Pada Percobaan yang akan dilakukan |
- |
|
|
Siapkan
pipa kapiler berdiameter keci, kemudian bilas menggunakan etanol 96% |
Agar
bersih dan streril dari sisa sisa senyawa lain |
Pipa
kapiler menjadi bersih dan steril |
|
|
1.
Masukkan pipa kapiler ketempat sampel, biarkan
sampel tertarik di dalam pipa |
- |
- |
|
|
2.
Totol sampel sebanyak 3 kali ditengah plat KLT
bagian bawah, tepat digaris tanda |
Penotolan
sampai 3 kali bertujuan agar hasil atau bekas yang didapat terlihat jelas |
Terdapat
Noda di plat KLT |
|
|
3.
Masukkan plat KLT yang sudah diberi sampel
menggunakan pinset dengan posisi horizontal dan pastikan plat KLT berdiri
tegak |
|
Agar
sampel fase gerak dapat berjalan atau merambat pada plat KLT yang telah
disiapkan |
- |
|
4.
Masukkan seluruh plat KLT yang sudah diberi sampel
(3 sampel) kedalam masing-masing bejana KLT yang berisi fase gerak yang telah
dijenuhkan 5.
|
Untuk
menentukan nilai Rf pada masing masing fase gerak |
- |
|
|
6.
Diamkan KLT hingga fase gerak bergerak maju menuju
tanda batas atas, kemudian keluarkan plat KLT dan biarkan kering 7.
|
Agar
fase bergerak sehingga dapat
menghitung nilai Rf dari batas yang sudah dibuat |
·
Pada KLT dengan fase gerak n-Heksan : Etil asetat
(1:1) tidak terjadi pemisahan/bercak noda tidak ada dibawah sinar tampak ·
Pada KLT dengan fase gerak Etanol 96% : Etil
asetat (1:1) terjadi pemisahan / adanya bercak noda pada fraksi n-heksan yang
diamati dibawah sinar tampak |
|
|
8.
Amati hasil KLT dibawah lampu UV 254 9.
|
Agar
mempermudah pengamatan dan mendapatkan hasil yang optimal |
·
Pada KLT dengan fase gerak n-Heksan : Etil asetat
(1:1) tidak terjadi pemisahan / bercak noda tidak ada dibawah sinar UV ·
Pada KLT dengan fase gerak n-Heksan : Etil asetat
(1:1) tidak terjadi pemisahan / bercak noda tidak ada dibawah sinar UV |
|
|
Lingkari
bercak noda menggunakan pensil kayu untuk memperjelas posisi bercak noda |
Untuk
mempermudah dalam perhitungan |
- |
|
|
Setelah
didapat jarak bercak noda, maka nilai Rf dihitung menggunakan rumus |
|
Untuk
menentukan Nilai Rf nya |
Nilai
Rf = 0,78 |
VIII. PEMBAHASAN
Percobaan
kali ini membahas tentang teknik pemisahan dengan kromatografi lapis tipis. Pada
prinsip kerja dari kromatografi lapis tipis ini menggunakan fasa diam dan juga
fasa gerak. Fasa gerak yang digunakan pada percobaan ini adalah etanol, N-heksana,
dan etil asetat. Masing-masing perbandingan dari fase gerak : n-Heksan : etil
asetat (1:1) dan fase gerak : etanol 96% : etil asetat (1:1).
Hal pertama yang dilakukan yaitu
melakukan penjenuhan pelarut untuk fase gerak yang ditempatkan dalam bejana
KLT. Kemudian disiapkan plat KLT dengan ukuran 1x8 cm, ujung bawah dan ujung
atas diberi garis batas dengan panjang 0,5 cm. lalu berikan tanda nama pada fraksi
yang akan digunakan dibelakang plat KLT. Hal ini bertujuan untuk penanda pada
percobaan yang akan dilakukan. Lalu disiapkan pipa kapiler berdiameter kecil,
kemudian bilas menggunakan etanol 96%. Hal ini bertujuan untuk agar sampel bersih
dan streril dari sisa sisa senyawa lain. Kemudian masukkan pipa kapiler
ketempat sampel, biarkan sampel tertarik didalam pipa. Totol sampel sebanyak 3
kali ditengah plat KLT bagian bawah, tepat digaris tanda. Penotolan sampai 3
kali bertujuan agar hasil atau bekas yang didapat terlihat jelas. Masukkan plat
KLT yang sudah diberi sampel menggunakan pinset dengan posisi horizontal dan
pastikan plat KLT berdiri tegak. Hal ini bertujuan agar sampel fase gerak dapat
berjalan atau merambat pada plat KLT yang telah diposisikan horizontal tadi.
Langkah selanjutnya yaitu memasukkan
seluruh plat KLT yang sudah diberi sampel (3 sampel) kedalam masing-masing
bejana KLT yang berisi fase gerak yang telah dijenuhkan. Lalu diamkan KLT
hingga fase gerak bergerak maju menuju tanda batas atas, kemudian keluarkan
plat KLT dan biarkan kering. Kemudian amati hasil KLT dibawah lampu UV 254. Pengamatan
dibawah sinar UV bertujuan untuk mendapatkan perbedaan hasil antara pada sinar
UV dan pada sinar tampak. Pada KLT dengan fase gerak n-Heksan : Etil asetat
(1:1) tidak terjadi pemisahan/bercak noda tidak ada dibawah sinar tampak. Pada
KLT dengan fase gerak Etanol 96% : Etil asetat (1:1) terjadi pemisahan / adanya
bercak noda pada fraksi n-heksan yang diamati dibawah sinar tampak. Pada KLT
dengan fase gerak n-Heksan : Etil asetat (1:1) tidak terjadi pemisahan / bercak
noda tidak ada dibawah sinar UV. Pada KLT dengan fase gerak n-Heksan : Etil
asetat (1:1) tidak terjadi pemisahan / bercak noda tidak ada dibawah sinar UV.
Kemudian langkah terakhir adalah melingkari
bercak noda menggunakan pensil kayu untuk memperjelas posisi bercak noda.
Setelah didapat jarak bercak noda, maka nilai Rf dihitung menggunakan rumus.
Sehingga nilai Rf yang diperoleh adalah 0,78.
IX.
PERTANYAAN
1. Mengapa
terdapat perbedaan hasil antara hasil KLT pada sinar tampak dan pada sinar UV?
2. Apa
fungsi dihitungnya nilai Rf pada percobaan ini?
3. Apakah
fungsi dari adanya perbandingan antar fase gerak pada percobaan ini?
X.
KESIMPULAN
Dari percobaan yang
telah diamati diperoleh kesimpulan :
1. Kromatografi
lapis tipis adalah suatu pemisahan yang mana menggunakan fase diam daj fase
gerak yang mana fase gerak disini gerak yang menjauh dari larutan yang
heterogen yaitu larutan polar dan nonpolar sehigga adanya perubahan atau jarak
dan disitulah letak pemisahannya
2. Cara
menghitung nilai Rf adalah jarak komponen dibagi dengan jarak eluen sehingga
diperoleh Rf = 0,78
XI.
DAFTAR PUSTAKA
Haqiqi,
S. H. 2008. Kromatografi Lapis Tipis. Tersedia http://nadjeeb. files.
wordpress. com/2009/10/kromatografi. Pdf.
Leba,
Uron., Aloisia., Maria. 2017. Ekstraksi dan Real Kromatografi. Yogyakarta :
Penerbit Dee Publish
Lutfi.,
Ayuningtyas. 2006. Kimia Organik. Jakarta : Penerbit Erlangga
Wulandari,
L., Retnaningtyas, Y., & Mustafidah, D. 2013. Pengembangan dan validasi
metode kromatografi lapis tipis densitometri untuk penetapan kadar teofilin dan
efedrin hidroklorida secara simultan pada sediaan tablet. Jurnal Kimia Terapan
Indonesia (Indonesian Journal of Applied Chemistry), 15(1), 15-21.
Utama,
N. R. (2013). Uji Sensitivitas Kertas Saring untuk Identifikasi Pewarna
Rhodamin B pada Makanan Jajanan. Unnes Journal of Public Health, 2(2).

Assalamualaikum. Saya Teguh Arizki (A1C119008) akan menjawab permasalah no 1.
BalasHapusIni karena intensitas cahaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju reaksi, sehingga diperoleh hasil yang berbeda pada saat sinar tampak dan sinar UV.
Assalammualaikum wr wb, Baiklah saya Cyntia Widi Udya dengan NIM A1C119011 akan menjawab pertanyaan no 3. Yang dimana fungsi dari perbandingan fase gerak dalam percobaan ini adalah afar dapat mengetahui kepolaran dari fase gerak yang optimal serta untuk menghasilkan harga e yang tepat dan untuk mengetahui keberadaan senyawa.
BalasHapusbaiklah saya Lenny Friskha Tamba (A1C119035) akaan menjawab pertanyaan no 2
BalasHapusNilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama atau mirip. Sedangkan, bila nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan merupakan senyawa yang berbeda.